Senin, 13 Januari 2020

Makalah Metode Pembinaan Akhlak


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
     Perhatian islam dalam pembinaan akhlaq  dapat dianalisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran islam. Ajaran islam tentang keimanan misalnya sangat berkaitan erat dengan mengerjakan serangkaian amal shaleh dan perbuatan terpuji. Iman yang tidak disertai dengan amal shaleh dinilai sebagai iman yang palsu, bahkan dianggap sebagai kemunafikan. Dalam Al-Qur’an kita misalnya membaca ayat berbunyi:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ أَمَنَّا بِاللهِ وَ بِالْيَوْمِ الْأَخِرِ وَمَاهُمْ بِمُعْمِنِيْنَ
Artinya: Dan diantara manusia (orang munafik) itu ada orang yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hadir, sedang yang sebenarnya mereka bukan orang yang beriman.” (QS.Al-Baqarah: 8-9)
     Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman kepada Allah dan rasulNya, kemudian itu mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berjuang dengan harta dan dirinya di jalan Allah. Itulah orang-orang yang benar (imanNya). (QS.Al-Hujurat: 15)
     Ayat-ayat diatas menunjukkan dengan jelas bahwa iman yang dikehendaki islam bukan iman yang hanya sampai pada ucapan dan keyakinan tetapi iman yang disertai dengan perbuatan dan akhlak yang mulia, seperti tidak ragu-ragu menerima ajaran yang dibawa rasul, mau memanfaatkan harta dan dirinya untuk berjuang di jalan Allah dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa keimanan harus membuahkan akhlak, dan juga memperlihatkan bahwa islam sangat mendambakan terwujudnya akhlak yang mulia.  
Dalam mempelajari akhlak untuk menimbulkan atau meningkatkan akhlak mulia maka memerlukan metode untuk penyampainya atau pembimbingan nya karena suatu hal akan lebih akurat apabila dibarengi dengantata caranya. Maka dari itu penulis mengangkat masalah metode pembinaan akhlak dalam makalah ini.

B.       Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud metode pembinaan akhlak?
2.      Apa saja macam-macam metode pembinaan akhlak?


C.       Tujuan
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan metode pembinaan akhlak
2.      Mengetahui macam-macam metode pembinaan akhlak



c
























BAB II
PEMBAHASAN
A.      Metode Pembinaan Akhlak
Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam  Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi  Muhammad SAW yang  utama adalah menyempurnakan akhlak yang mulia.  Dalam salah satu hadistnya:
عَنْ  ماَ لِكٍ عَنْ اَبْى هُرَ يْرَةَ رَضِى الله  عَنهُ اَنَّ رَسُوْلُ  الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال بُعِثْتُ لِأُُ تَمِّمَ مَكَاِرمَ اْ لأَخْلاَقِ
(رواه احمد)
Dari Malik dan Abu Huraira r.a bahwasannya: sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Aku di utus tiada lain untuk  menyempurnakan akhlak yang baik (H.R. Ahmad).

Islam sangat menaruh perhatian penting terhadap pembinaan jiwa akhlak, perhatian Islam terhadap jiwa yang  harus  didahulukan dari pada  pembinaan fisik, karena dari jiwa  yang baik akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik yang selanjutnya menghasilkan kebajikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia lahir dan batin
Perhatian Islam  dalam  pembinaan akhlak dapat dianalisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran Islam. Pendidikan akhlak yang ditempuh Islam adalah menggunakan cara atau sistem yang integrated, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribadatan dan  lainnya secara simultan untuk diarahkan pada  pembinaan akhlak.
      Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka Hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.  Hari kemudian ialah: mulai dari waktu mahluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai waktu yang tak ada batasnya. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.

      Ayat – ayat diatas dengan jelas menunjukkan bahwa iman yang di kehendaki islam bukan iman yang hanya samapai pada ucapan dan keyakinan,tetapi iman yang disertai dengan perbuatan akhlak yang mulia.,seperti tidak ragu menerima ajaran rasul,mau memanfaatkan dirinya dan hartanya untuk berjuang dijalan Allah.
Ini menunjukan bahwa keimana harus membuahkan akhlak yang mulia.

B.       Macam-Macam Metode Pembinaan Akhlak
1.        Metode Uswah (teladan)
     Akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran, intruksi dan larangan, sebab tabiat jiwa untuk menerima keutamaan itu tidak cukup hanya seorang guru mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu. Menanamkan sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus ada pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukses melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. Cara yang demikian itu telah dilakukan oleh rasulallah saw. Keadaan ini dinyatakan dalam ayat yang berbunyi:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat contoh teladan yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang yang mengharapkan keridhoan Allah dan (berjumpa dengannya di) hari kiamat dan selalu banyak menyebut nama Allah. (QS.Al-Ahzab: 21)
Senada dengan hal itu, Abdullah Nasih Ulwan berpendapat bahwa seorang pendidik barangkali akan merasa mudah mengkomunikasikan pesannya secara lisan. Namun, anak akan merasa kesulitan dalam memahami pesan yang disampaikannya.[5] Dengan demikian, keteladanan merupakan faktor dominan dan berpengaruh bagi keberhasilan pendidikan dan metode pendidikan yang paling  membekas pada diri peserta didik.

Aplikasi metode teladan, diantaranya adalah, tidak menjelek-jelekkan seseorang, menghormati orang lain, membantu orang yang membutuhkan pertolongan, berpakaian yang sopan, tidak berbohong, tidak berjanji mungkir, membersihkan lingkungan, dan lain-lain ; yang paling penting orang yang diteladani, harus berusaha berprestasi dalam bidang tugasnya.


2.        Metode Ta’widiyah (pembiasaan)
Secara etimologi, pembiasaan asal katanya adalah biasa. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, biasa artinya lazim atau umum ; seperti sedia kala ; sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Muhammad Mursyi dalam bukunya “Seni Mendidik Anak”, menyampaikan nasehat Imam al-Ghazali : “Seorang anak adalah amanah (titipan) bagi orang tuanya, hatinya sangat bersih bagaikan mutiara, jika dibiasakan dan diajarkan sesuatu kebaikan, maka ia akan tumbuh dewasa dengan tetap melakukan kebaikan tersebut, sehingga ia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat” Dalam ilmu jiwa perkembangan, dikenal teori konvergensi, dimana pribadi dapat dibentuk oleh lingkungannya, dengan mengembangkan potensi dasar yang ada padanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan, untuk mengembangkan potensi dasar tersebut, adalah melalui kebiasaan yang baik. Oleh karena itu, kebiasaan yang baik dapat menempa pribadi yang berakhlak mulia. Aplikasi metode pembiasaan tersebut, diantaranya adalah, terbiasa dalam keadaan berwudhu’, terbiasa tidur tidak terlalu malam dan bangun tidak kesiangan, terbiasa membaca al-Qur’ab dan Asma ul-husna shalat berjamaah di masjid/mushalla, terbiasa berpuasa sekali sebulan, terbiasa makan dengan tangan kanan dan lain-lain. Pembiasaan yang baik adalah metode yang ampuh untuk meningkatkan akhlak peserta didik dan anak didik.
3.        Metode Mau’izhah (nasehat)
Kata mau’izhah berasal dari kata wa’zhu, yang berarti nasehat yang terpuji, memotivasi untuk melaksanakannya dengan perkataan yang lembut.
metode nasehat juga sangat dibutuhkan dalam pembinaan akhlak. Dengan metode ini, seseorang dapat menanamkan pengaruh yang baik ke dalam jiwa seseorang. Cara yang dimaksud ialah: Pertama, nasehat hendaknya lahir dari hati yang ikhlas. Nasehat yang disampaikan secara ikhlas akan mengena dalam tanggapan pendengarnya. Kedua, nasehat hendaknya berulang-ulang agar nasehat itu meninggalkan kesan sehingga orang yang dinasehati tergerak untuk mengikuti nasehat itu. Allah Swt. pun menjelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ..
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..
Selain itu pembinaan akhlak dapat pula ditempuh dengan cara senantiasa menganggap diri ini sebagai manusia yang banyak kekurangannya dari pada kelebihannya dalam hubungan ini ibnu sina mengatakan jika seseorang menghendaki dirinya berakhlak utama, hendaknya ia lebih dahulu mengetahui kekurangan dan cacat yang ada dalam dirinya, dan membatasi sejauh mungkin untuk tidak berbuat kesalahan sehingga kecacatannya itu tidak terwujud dalam kenyataan. Namun ini bukan berarti bahwa ia menceritakan dirinya sebagai orang yang paling bodoh, paling miskin dan sebagainya di hadapan orang-orang, dengan tujuan justru merendahkan orang lain. Hal yang demikian dianggap tercela dalam islam.
Pembinaan akhlak secara efektif dapat pula dilakukan dengan memperhatikan faktor kejiwaan sasaran yang akan dibina. Menurut hasil penelitian para psikolog bahwa kejiwaan manusia berbeda menurut perbedaan tingkat usia. Pada usia kanak-kanak misalnya lebih menyukai kepada hal-hal yang bersifat rekreatif dan bermain. Untuk itu ajaran akhlak dapat disajikan dalam bentuk permainan. Hal ini pernah dilakukan oleh para ulama’ di masa lalu. Mereka menyajikan ajaran akhlak lewat syair yang berisi sifat-sifat Allah dan Rasul, anjuran beribadah dan berakhlak mulia dan lain-lainnya. Syair tersebut dibaca pada saat menjelang dilangsungkannya pengajian, ketika akan melaksanakan sholat lima waktu dan acara-acara peringatan hari-hari besar islam.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 232 :…”Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman diantara kalian, yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”…
Aplikasi metode nasehat, diantaranya adalah, nasehat dengan argumen logika, nasehat tentang keuniversalan Islam, nasehat yang berwibawa, nasehat dari aspek hukum, nasehat tentang “amar ma’ruf nahi mungkar”, nasehat tentang amal ibadah dan lain-lain. Namun yang paling penting, si pemberi nasehat harus mengamalkan terlebih dahulu apa yang dinasehatkan tersebut, kalau tidak demikian, maka nasehat hanya akan menjadi lips-service.


4.        Metode Qishshah (cerita)
Qishshah dalam pendidikan mengandung arti, suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran, dengan menuturkan secara kronologis, tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal, baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja.
Menegaskan dalam firmanNya:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ…
Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal… (QS. Yusuf: 111)
Dalam pendidikan Islam, cerita yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis merupakan metode pendidikan yang sangat penting, alasannya, cerita dalam al-Qur’an dan Hadis, selalu memikat, menyentuh perasaan dan mendidik perasaan keimanan, contoh, surah Yusuf, surah Bani Israil dan lain-lain.
Aplikasi metode qishshah ini, diantaranya adalah, memperdengarkan casset, video dan ceritera-ceritera tertulis atau bergambar. Pendidik harus membuka kesempatan bagi anak didik untuk bertanya, setelah itu menjelaskan tentang hikmah qishshah dalam meningkatkan akhlak mulia.
5.        Metode Amtsal (perumpamaan)
Metode perumpamaan adalah metode yang banyak dipergunakan dalam al-Qur’an dan Hadis untuk mewujudkan akhlak mulia. Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 17 : “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api”… Dalam beberapa literatur Islam, ditemukan banyak sekali perumpamaan, seperti mengumpamakan orang yang lemah laksana kupu-kupu, orang yang tinggi seperti jerapah, orang yang berani seperti singa, orang gemuk seperti gajah, orang kurus seperti tongkat, orang ikut-ikutan seperti beo dan lain-lain. Disarankan untuk mencari perumpamaan yang baik, ketika berbicara dengan anak didik, karena perumpamaan itu, akan melekat pada pikirannnya dan sulit untuk dilupakan.
Aplikasi metode perumpamaan, diantaranya adalah, materi yang diajarkan bersifat abstrak, membandingkan dua masalah yang selevel dan guru/orang tua tidak boleh salah dalam membandingkan, karena akan membingungkan anak didik.
Metode perumpamaan ini akan dapat memberi pemahaman yang mendalam, terhadap hal-hal yang sulit dicerna oleh perasaan. Apabila perasaan sudah disentuh, akan terwujudlah peserta didik yang memiliki akhlak mulia dengan penuh kesadaran.
6.        Metode Tsawab (ganjaran)
Armai Arief dalam bukunya, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, menjelaskan pengertian tsawab itu, sebagai : “hadiah ; hukuman. Metode ini juga penting dalam pembinaan akhlak, karena hadiah dan hukuman sama artinya dengan reward and punisment dalam pendidikan Barat. Hadiah bisa menjadi dorongan spiritual dalam bersikap baik, sedangkan hukuman dapat menjadi remote control, dari perbuatan tidak terpuji.
Aplikasi metode ganjaran yang berbentuk hadiah, diantaranya adalah, memanggil dengan panggilan kesayangan, memberikan pujian, memberikan maaf atas kesalahan mereka, mengeluarkan perkataan yang baik, bermain atau bercanda, menyambutnya dengan ramah, meneleponnya kalau perlu dan lain-lain.
Aplikasi metode ganjaran yang berbentuk hukuman, diantaranya, pandangan yang sinis, memuji orang lain dihadapannya, tidak mempedulikannya, memberikan ancaman yang positif dan menjewernya sebagai alternatif terakhir. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi dari Abdullah bin Basr al-Mani, ia berkata : “Aku telah diutus oleh ibuku, dengan membawa beberapa biji anggur untuk disampaikan kepada Rasulullah, kemudian aku memakannya sebelum aku sampaikan kepada beliau, dan ketika aku mendatangi Rasulullah, beliau menjewer telingaku sambil berseru ; wahai penipu”.
Dari Hadis di atas, dapat dikemukakan, bahwa menjewer telinga anak didik, boleh-boleh saja, asal tidak menyakiti. Namun di negeri ini, terjadi hal yang dilematis, menjewer telinga anak didik, bisa-bisa berurusan dengan pihak berwajib, karena adanya Undang-Undang Perlindungan Anak. Pernah terjadi seorang guru, karena menjewer telinga anak didiknya yang datang terlambat, orang tua siswanya lalu melaporkan ke polisi, lalu sang guru terpaksa masuk sel. Oleh karena itu ke depan, perlu pula dibuat Undang-Undang Perlindungan Guru, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya, lebih aman dan nyaman. Akhirnya, supaya pekat tidak semakin parah, selanjutnya akhlak generasi muda akan semakin baik, dan akhlak mulia dapat pula terwujud, seyogianyalah orang tua, guru, pemimpin formal dan non-formal mengaplikasikan metode pembinaan akhlak dalam perspektif Islam itu, dalam proses pendidikan, baik dalam lembaga pendidikan formal, maupun dalam kehidupan rumah tangga. Semoga Allah SWT memberkahinya



















BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad SAW yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Perhatian islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak ini dapat pula dilihat dari perhatian islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin.
Ada beberapa metode dalam pembinaan akhlak yaitu :
1.      Metode Metode Uswah (teladan)
  1. Metode Ta’widiyah (pembiasaan)
  2. Metode Tsawab (ganjaran)
  3. Metode Amtsal (perumpamaan)
5.      Metode Qishshah (cerita)
  1. Metode Mau’izhah (nasehat)


B.       Saran
Pentingnya akhlak mulia dalam diri seseorang menjadi landasan mengapa kita harus mempelajari metode pembinaan aklak agar kita bisa membina dii kita sendiri maupun orang lain, maka dari itu penulis menyarankan untuk membaca banyak referensi lain mengenai metode pembinaan akhlak agar lebih memahami.



DAFTAR PUSTAKA
            Diakses dari: http://mymuslim-muslimat.blogspot.co.id/2013/07/metode-pembinaan-akhlak.html (sabtu 19 september 2015)
            Diakses dari : http://www.berryhs.com/2011/04/metode-pembinaan-akhlak_29.html (sabtu, 19 september 2015)


Akhlak Kepada Orang Tua


BAB I
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Akhlak Kepada Kepada Kedua Orang Tua
1.    Pengertian akhlak
Kata Akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat.[1] Tabiat atau watak dilahirkan karena hasil perbuatan yang diulang-ulang sehingga menjadi biasa. Perkataan ahklak sering disebut kesusilaan, sopan santun dalam bahasa Indonesia; moral, ethnic. Dalam bahasa Inggris sering disebut ethos sedangkan  ethios dalam bahasa Yunani. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta, demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang diciptakan.
Menurut Ibrahim Anis dalam al-Mujam al-Wasith, bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Selanjutnya Abuddin Nata dalam bukunya pendidikan dalam perspektif hadits mengatakan bahwa ada lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak. Pertama perbuatan akhlak tersebut sudah menjadi kepribadian yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang. Kedua perbuatan akhlak merupakan perbuatan yang dilakukan dengan acceptable dan tanpa pemikiran (unthouhgt). Ketiga, perbuatan akhlak merupakan perbuatan tanpa paksaan. Keempat, perbuatan dilakukan dengan sebenarnya tanpa ada unsur sandiwara. Kelima, perbuatan dilakukan untuk menegakkan kalimat Allah.
2.      Pengertian Birrul Walidain
Kata al birr berasal dari akar kata barra-yabarru-barran (بر- يبر- برن) menurut kamus al-Munawwir berarti “taat atau berbakti”. Al-birr yaitu kebaikan, al-birr adalah baiknya akhlak. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia kebaikan artinya adalah sifat manusia yang dianggap baik menurut sistem norma dan pandangan umum yang berlaku atau yang mendatangkan keselamatan, keberuntungan sesama manusia. Sedangkan walidain berasal dari kata walada-yalidu-walidatan (ولد - يلد - ولدتن) yang berarti melahirkan. Orang yang melahirkan manusia adalah ibu maka walada menjadi walidain yang berarti kedua orang tua.
Dari beberapa definisi kata al-birr dan walidain di atas dapat diambil pengertian bahwa menurut bahasa birrul walidain artinya berbakti kepada kedua orang tua. Adapun yang dimaksud adalah suatu pengertian yang menunjukkan perbuatan baik seorang anak terhadap kedua orang tua.
Birrul walidain merupakan salah satu akhlak terpuji seorang anak kepada orang tua, sedangkan akhlak sendiri merupalan dimensi ketiga dari ajaran islam sebagai materi dakwah setelah akidah dan syariah. Adapun ‘Uququl Walidain, ‘Uququl Walidain artinya mendurhakai kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar yang dibenci oleh Allah Swt, sehingga adzabnya disegerakan oleh Allah di dunia ini. Hal ini mengingat betapa istimewanya kedudukan kedua orang tua dalam ajaran Islam dan juga mengingat betapa besarnya jasa kedua orang tua terhadap anaknya, jasa itu tidak bisa diganti dengan apapun.

B.         Hukum berbakti kepada kedua orang tua
Para Ulama’ Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik atau berbakti pada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, hanya saja mereka berselisih tentang ibarat-ibarat atau contoh pengamalannya misalnya mengenai orang anak yang mengatakan “uh” atau “ah” ketika di suruh oleh kedua orang tua tersebut. Pendapat Ibnu Hazm menganai hukum birrul walidain, menurutnya birul walidain adalah fardhu a’in yaitu wajib bagi masing-masing individu. Sedangkan menurut Al-Qodli Iyyad birrul walidain adalah wajib kecuali terhadap perkara yang haram.
Adapun dalil-dalil Shahih dan Sharih yang tentang berbakti kepada orangtua adalah[2] :
a.       Firman Allah Swt. dalam surah An-Nisa’ ayat 36
وَاعْبُدُوْااللهَ وَلَاتُسْرِكُوابِهِ شَيْعًا وَّبِالْوَلِدَيْنِ اِحْسٰنًا
Artinya: “Dan sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak..........”. (An Nisa’: 36).
Dalam ayat ini berbuat baik kepada Ibu Bapak merupakan perintah setelah menyembah dan tidak mempersekutukan Allah.
b.      Firman Allah Swt. Dalam Al-qur’an surah Al-Isra’ ayat 23 dan 24
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya :“ Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku,kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.”
Surat Al-Isra ayat 23-24 memiliki kandungan mengenai pendidikan berkarakter. Definisi dari karakter adalah satu kesatuan yang membedakan satu dengan yang lain atau dengan kata lain karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim berupa moral, budi pekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Akhlak dan adab sumbernya adalah wahyu yakni berupa Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan budi pekerti, moral, dan sopan santun sumbernya adalah filsafat. Kembali kepada pengertian dari Surah Al-Isra ayat 23 disebutkan bahwa yang pertama Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.yang kedua, kita harus berbakti kepada orang tua. Lalu pada ayat 24 disebutkan bahwa anak hendaknya mendoakan kedua orang tuanya. Ulama menegaskan bahwa doa kepada kedua orang tua yang dianjurkan adalah bagi yang muslim, baik yang masih hidup atau telah meninggal.
Sedangkan bila ayah atau ibu yang tidak beragama islam telah meninggal, maka terlarang bagi anak untuk mendoakannya. Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa ketika kita menghargai dan menyayangi orang tua kita dengan baik maka akan menumbuhkan akhlak serta moral yang baik pula bagi anak sedangkan jikalau kita acuh maka akan timbuh akhlak dan moral yang tidak baik. Dengan kata lain, hal ini sangat berpengaruh dalam pendidikan karakter. Antara orangtua sebagai pendidik dan anak. Segala sesuatu yang diajarkan dengan baik pada mulanya akan menanamkan karakter yang baik pula pada anak. Untuk itu berbakti kepada orang tua merupakan suatu cara yang harus dilakukan.
c.       Adapun Firman Allah Swt di dalam Al-Qur’an tentang berbakti kepada kedua orang tua terdapat pada surah Lukman ayat 14.

وَوَصَّيْنَاالْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ اُمُّهُ وَهْنًاعَلٰ وَهْنٍ وَّفِصٰلُهُ فِي عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْلِيْ وَلِوَالِدَيْكَ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Artinya :”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman :14).

d.      Hadits-hadits tentang berbakti kepada orang tua
1). Hadis Abdullah ibnu Umar tentang ridho Allah terletak pada ridho orang tua
عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)
Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).
2). Hadis Abu Hurairah tentang siapakah yang berhak dipergauli dengan baik
عَنْ اَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ اَحَقًّ النّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال: اُمُّك قال: ثُمَّ مَنْ؟ قال: ثُمَّ اُمُّك قال: ثم من؟ قال :ثم امُّك قال: ثم من؟ قال : ثم اَبُوْكَ (اخرجه البخاري)
Artinya: dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “ Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: “ Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab : “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “ Bapakmu!”(H.R.Bukhari).


C.      Bentuk-Bentuk Berbakti Kepada Orang Tua
1.    Pertama Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik
Di dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam disebutkan bahwa memberikan kegembiraan kepada seorang mu'min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita. Dalam nasihat perkawinan dikatakan agar suami senantiasa berbuat baik kepada istri, maka kepada kedua orang tua harus lebih dari kepada istri. Karena dia yang melahirkan, mengasuh, mendidik dan banyak jasa lainnya kepada kita.
Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuh maka fardhu 'ain) dengan meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Kembali dan buatlah keduanya tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis.” [Hadits Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i]
Dalam riwayat lain dikatakan: “Berbaktilah kepada kedua orang tuamu” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]
2.    Yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut
Hendaknya dibedakan berbicara dengan kedua orang tua dan berbicara dengan anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua, tidak boleh mengucapkan 'ah' apalagi mencemooh dan mencaci maki atau melaknat keduanya karena ini merupakan dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang tua. Jika hal ini sampai terjadi, wal iya 'udzubillah.
Kita tidak boleh berkata kasar kepada orang tua kita, meskipun keduanya berbuat jahat kepada kita. Atau ada hak kita yang ditahan oleh orang tua atau orang tua memukul kita atau keduanya belum memenuhi apa yang kita minta (misalnya biaya sekolah) walaupun mereka memiliki, kita tetap tidak boleh durhaka kepada keduanya.
3.    Tawadlu (rendah diri)
Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.
Seandainya kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang kita anggap ringan dan merendahkan kita yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita dan bukan sesuatu yang haram, wajib bagi kita untuk tetap taat kepada keduanya. Lakukan dengan senang hati karena hal tersebut tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang menyuruh adalah orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik selagi keduanya masih hidup.
4.    Yaitu memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua
Semua harta kita adalah milik orang tua. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala surat Al-Baqarah ayat 215.
Artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, ‘Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah maha mengetahui”
Jika seseorang sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkannya yang pertama adalah kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al-Baqarah di atas. Kemudian kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang yang dalam perjalanan. Berbuat baik yang pertama adalah kepada ibu kemudian bapak dan yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut.
Artinya: “Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat" [Hadits Riwayat Bukhari]
Sebagian orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang tuanya karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan. Yang mengatur harta adalah suami sebagaimana disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Harus dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban yang utama bagi anak laki-laki adalah berbakti kepada ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat baik lainnya kepada kedua orang tuanya.
5.    Mendo'akan orang tua
Sebagaimana dalam ayat "Robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro" (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid'ah, kita harus tetap berlaku lemah lembut kepada keduanya. Dakwahkan kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut sambil berdo'a di malam hari, ketika sedang shaum, di hari Jum'at dan di tempat-tempat dikabulkannya do'a agar ditunjuki dan dikembalikan ke jalan yang haq oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Seorang anak yang ingin mendoakan kedua orang tuanya dapat mengambil contoh dari ayat suci Alquran yaitu, doa Nabi Ibrahim as ketika mengajukan permohonan kepada Allah Swt agar dapatlah kiranya Allah memberi ampunan pada kedua orang tuanya dari dosa-dosa yang telah mereka perbuat.
Al- Qur’an Surah Ibrahim (14) : 41
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Artinya: Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.
Al- Qur’an Surah Al-Israa’(17) : 24
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya: dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
Sedangkan menurut hadits-hadits yang shahih tentang amal-amal yang diperbuat untuk kedua orang tua yang sudah wafat, adalah :
a.  Mendo'akannya
b. Menshalatkan ketika orang tua meninggal
c. Selalu memintakan ampun untuk keduanya.
d. Membayarkan hutang-hutangnya
e. Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari'at.
f. Menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya.
Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma.
Artinya : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman-teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal.”
[Hadits Riwayat Muslim No. 12, 13, 2552]

D.      Akhlak terhadap orang tua menurut etika
Orang tua adalah oran yang telah merawat kita, menjaga, memelihara, dan mendidik kita sejak kecil hingga kita menjadi dewasa. Mereka melakukannya secara sunguh-sungguh dan penuh kasih sayang demi mengharapkan kehidupan kita yang lebih baik. Bahkan orang tua dengan susah payah bekerja mencari nafkah untuk membahagiakan kita.
Sedemikian besar peran orang tua dalam hidup kita, sehingga sudah sepantasnya kita sebagai orang yang berpengetahuan haruslah menjaga etika kita terhadap orang tua. Diantara bentuk-bentuk perbuatan kita yang sesuai dengan etika adalah :
  1. Selalu taat kepada keduanya dan menjalankan segala perintahnya, asalkan perintah itu tidak bertentangan dengan ajaran agama dan tidak melanggar hukum yang berlaku di suatu tempat. Meskipun orang tua kita berbuat aniaya kepada kita, tetaplah kita tidak boleh menyinggung perasaan mereka ataupun membalas perbuatan yang mereka terhadap kita. Baik bagaimanapun mereka tetaplah orang tua kita yang telah merawat kita semenjak kita kecil. Menurut ukuran umum, orang tua tidak akan berbuat aniaya kepada anaknya sendiri. Jikalau terjadi aniaya, biasanya disebabkan oleh perbuatan si anak yang berbuat keterlaluan kepada orang tua.
2.      Jika hendak pergi hendaklah meminta izin kepada keduanya. Apabila tidak diizinkan kita harus menerimanya dengan lapang dada.
3.      Berbicaralah dengan lemah lembut, bermuka manis, dan berseri-seri. Janganlah meninggikan suara ketika berbicara kepada orang tua dan jangan pula menggunakan kata-kata yang kasar kepada keduanya.
4.      Perhatikan nasihat-nasihat orang tua dan janganlah memotong pembicaraannya.
5.      Membantu pekerjaan orang tua dengan sekuat tenaga, terutama jika orang tua sudah berusaha lanjut.
6.      Selalu bersikap baik dan sopan santun baik dalam perbuatan maupun perkataan.
7.      Selalu menyambung silaturahim kepada keduanya meskipun kita dalam perantauan ataupun kita sudah memiliki keluarga sendiri, selalu menepati janji kita, dan menghormati sahabat-sahabat orang tua dengan baik.
8.      Selalu mendoakan orang tua agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt.
Sementara itu menurut imam al-Ghazali, etika anak terhadap orang tuanya adalah sebagai berikut:
1.      Mentaati mereka selama tidak mendurhakai Allah SWT.
2.      Berbakti dan merendahkan diri di hadapan kedua orang tua.
3.      Memenuhi Sumpah Kedua Orang Tua
  1. Mendengarkan pembicaraannya.
  2. Melaksanakan perintahnya.
  3. Tidak berjalan di depannya.
  4. Tidak mengeraskan suara ketika berbicara kepadanya.
  5. Menjawab panggilannya.
  6. Berkemauan keras menyenangkan hatinya.
  7. Menundukkan badannya.
  8. Tidak mengungkit kebaikan kita terhadap mereka.
  9. Tidak memandang dengan mata melotot dan tidak menatap matanya.

E.  Keutamaan Birrul Walidain
1.      Termasuk Amalan Yang Paling Mulia
Dari Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: "Sholat tepat pada waktunya", Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada kedua orang tua". Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Berjihad di jalan Allah".(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).
2.      Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….", hingga akhir ayat berikutnya : "Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." (QS. Al Ahqaf 15-16).
3.      Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga
Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Celakalah dia, celakalah dia", Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga".
4.       Merupakan Sebab keridhoan Allah
Sebagaiman hadits yang terdahulu "Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua".Allah  sangat membenci orang yang selalu membuat orang tua cemberut, marah dan lain-lain. Sebagai seorang anak maka kita berkewajiban untuk selalu membuat mereka bangga terhadap apa yang akan kita capai. 
5.      Merupakan Sebab Bertambahnya Umur dan Rizki
Diantarnya hadit yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim". Berbakti kepada kedua orang tua juga merupakan sebab barokahnya rizki.




[1] A Mustafa,  Akhlak Tasawuf, 1999. Pustaka Setia:  Jakarta, hal 11
[2] A Mustafa,  Akhlak Tasawuf, 1999. Pustaka Setia:  Jakarta.
https://muslim.or.id/27537-beberapa-adab-terhadap-orang-tua.html

Sabtu, 08 Juni 2019

B1a4 - What's Going On? (Hangul)

every day yeah yeah yeah yeah
every day yeah yeah yeah yeah

야 너 똑바로 말해 어디야
어딘데 (집이지~) 지금 어딘데
자꾸 왔다 갔다 뭐라는 거야
이상해 정말 이상해
오늘따라 너의 목소리가 떨리는 거 모르니

입만 열면 너는 매일 거짓말
눈만 뜨면 너는 매일 거짓말
틈만 나면 너는 매일 거짓말

이제 나는 알았어
그럴 줄 알았어

이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날에
이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날에
you! baby I want you beautiful love (hey)
wassup wassup tell me tell me wassup

이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날에
이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날에
you! baby I want you beautiful love (hey)
wassup wassup tell me tell me wassup

야 너 솔직히 말해 누구야
누군데 그리 자연스러워 팔짱
아무리 잘해 줘 봤자 말짱 꽝이야
이게 다 누구의 탓이야
다 퍼준 게 죄? 이건 아니야
이렇게 될 거라고 생각은 했지만
될 거라곤 몰랐네 꿈에도
밥이나 먹어야지 근데 뭐 먹지

맘은 아픈데 (woo hoo)
비만 내리네 (woo hoo)
나는 이런데 넌 웃고 있겠지 oh no

입만 열면 너는 매일 거짓말
눈만 뜨면 너는 매일 거짓말
틈만 나면 너는 매일 거짓말

이제 나는 알았어
그럴 줄 알았어

이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날에
이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날에
you! baby I want you beautiful love (hey)
wassup wassup tell me tell me wassup

가기 전에 돌아서기 전에 내게로 돌아와요 baby girl

(alright) 늘 밝지 않아도 좋아
(alright) 날 찾지 않아도 좋아
(alright) 널 쳐다만 봐도 좋아 난
falling in love
falling in love
you woo woo woo

이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날에
이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날
너는 왜 yeah yeah yeah yeah
wassup wassup tell me tell me wassup

이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날에
이게 무슨 일이야 이렇게 좋은 날
정말 왜 yeah yeah yeah yeah
wassup wassup tell me tell me wassup

every time I think about you
every day 널 생각해
every time I think about you 난 오늘도

every time I think about you
every day 널 생각해
every time I think about you 난 오늘도

야 너 나한테 잘해 알겠지?